BISSU SOPPENG PENJAGA TERAKHIR WARISAN SPIRITUAL BUGIS

Walennae.com
Dari SalassaE Bola RidiE Puang Ecce dan para Bissu merawat tradisi leluhur di tengah tantangan modernisasi dan digitalisasi

Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi keberadaan Bissu sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Bugis kembali menjadi perhatian publik. Sosok yang selama berabad-abad menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual dan adat Bugis kini semakin jarang ditemukan termasuk di Kabupaten Soppeng yang dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Bugis di Sulawesi Selatan.

Dalam sebuah wawancara bersama Puang Matoa Ecce tokoh Bissu di Soppeng terungkap bahwa jumlah Bissu yang masih aktif saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar enam orang. Angka tersebut menunjukkan semakin berkurangnya penjaga tradisi yang dahulu memiliki kedudukan penting dalam sistem sosial dan spiritual masyarakat Bugis.

Secara historis Bissu merupakan figur adat yang memiliki peran sentral dalam berbagai ritual kerajaan Bugis. Mereka bertugas memimpin upacara adat menjaga benda-benda pusaka kerajaan (arajang), serta merawat nilai-nilai sakral yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur

Dalam khazanah budaya Bugis Bissu juga dikenal sebagai bagian dari konsep lima kategori gender tradisional, yakni oroané (laki-laki), makkunrai (perempuan), calabai, calalai, dan Bissu. Namun bagi masyarakat Bugis, Bissu tidak hanya dipahami sebagai identitas gender, melainkan sebagai figur spiritual yang menjalankan fungsi adat dan ritual yang sakral.

Jejak keberadaan Bissu hingga kini masih dapat ditemukan di kawasan adat SalassaE Bola RidiE Kabupaten Soppeng. Kawasan ini menjadi salah satu wilayah yang masih mempertahankan tradisi Bugis kuno sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat setempat.

SalassaE Bola RidiE dikenal sebagai pusat aktivitas adat yang tetap menjaga keberadaan Bissu sebagai penjaga adat, pelestari ritual, dan perawat nilai-nilai budaya Bugis. Di tempat inilah berbagai tradisi leluhur masih dijalankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Keberadaan kawasan adat tersebut menarik perhatian dua mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Andi Nabilah Batariugi dan Elisabeth Joshlyn Triamor. Keduanya tengah menyusun video dokumenter budaya dalam rangka program Jurnalisme Nusantara yang mengangkat tema keberlangsungan tradisi Bissu di Soppeng.
Andi Nabilah Batariugi merupakan putri daerah Kabupaten Soppeng yang berasal dari rumpun keturunan La Dado Aru Labessi Aru Jampu Sullewatang Marioriwawo. Baginya dokumenter ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya Bugis kepada generasi muda sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya leluhur.

Melalui dokumenter tersebut mereka ingin mendengar langsung pandangan dan pengalaman para Bissu mengenai jati diri, peran adat, tantangan zaman, serta harapan terhadap masa depan pelestarian budaya Bugis.

Menurut sejumlah pemerhati budaya perkembangan teknologi menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, digitalisasi membuka ruang yang lebih luas untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat nasional maupun internasional. Namun di sisi lain, penyebaran informasi yang tidak disertai pemahaman yang memadai sering kali melahirkan kesalahpahaman mengenai makna dan fungsi Bissu dalam tradisi Bugis.

Karena itu pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui dokumentasi dan publikasi. Diperlukan pula pendidikan budaya yang berkelanjutan agar masyarakat dapat memahami Bissu secara utuh sebagai penjaga tradisi, warisan spiritual, dan bagian penting dari peradaban Bugis.
Dengan jumlah yang semakin terbatas, keberadaan Bissu di Soppeng menjadi pengingat bahwa warisan budaya merupakan identitas kolektif yang harus dijaga bersama. Di tengah perubahan zaman nilai-nilai yang diwariskan para leluhur tetap memiliki makna penting sebagai sumber pengetahuan, kearifan, dan jati diri masyarakat Bugis.

Reporter : Walennae.com
Editor : Redaksi Budaya
Kategori : Budaya dan Tradisi Bugis Soppeng

0 Komentar